Komentar Cak Nun,Presiden Itu Harus .... - dibuka.site

Komentar Cak Nun,Presiden Itu Harus ....

Hallo sahabat Berita Online Anak Milenial dimanapun anda berada,Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul " Komentar Cak Nun,Presiden Itu Harus .... ",telah kami persiapkan dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya.mudah-mudahan apa yang kami tulis ini dapat anda pahami.selamat membaca.

makiyah 2019

siapa pilihan Cak Nun sendiri? “Rahasia,” katanya


Dibuka.site - Pernyataan budayawan sekelas Emha Ainun Najib memang ditunggu banyak orang. Pemimpin seperti apa yang Cak Nun harapkan? Di Rumah Maiyah, pria kelahiran Jombang ini menyatakan akan datang ke TPS. "Saya selalu datang ke TPS. Pertimbangan saya nomor satu adalah rukun sama tetangga. Mereka panitia capek-capek, masak saya nggak datang, saya datang," ujarnya di Rumah Maiyah Kadipiro, Yogyakarta, Jumat (detik.com, 29/3/2019).

Maiyah adalah forum kebersamaan yang dibentuknya bersama jemaah pengajian Padhang Mbulan yang kini sudah tersebar di berbagai daerah dan selalu dipadati orang. Nah, kriteria pemimpin seperti apa yang Cak Nun harapkan?

"Harus ada para pemimpin yang berinisiatif, rendah hati satu sama yang lain, arif satu sama lain, dan mengabdi kepada rakyat satu sama lain. Karena di Indonesia ini yang harus menang kan rakyat, bukan kelompok mana pun," itulah jawaban dari cak nun.

Ayo kita cermati kriteria Cak Nun dengan pemikiran kekinian dan milenial

Pertama, pemimpin harus punya inisiatif. Artinya bergerak ke arah yang baik tanpa disuruh orang. “Orang-orang sukses bergerak atas inisiatif mereka sendiri dan mereka tahu menuju kemanakah mereka sebelum memulai,” ujar Napoleon Hill. Dari kata bergerak ini, muncullah kata dinamis, yang berasal dari kata dinamit. Artinya, ledakan. Jadi, seorang pemimpin harus lebih banyak bekerja nyata ketimbang mengumbar janji surga yang tak jelas kapan realisasinya. Barack Obama, pernah berkata,

 “The cynics may be the loudest voices – but I promise you, they will accomplish the least.”

 Artinya, orang sinis yang suka mengolok-olok pekerjaan orang lain bisa saja bersuara paling lantang, namun biasanya justru gamang dan tidak punya pencapaian apa-apa.

Kedua,pemimpin haruslah seorang yang rendah hati.Orang yang mengindap megalonia yang selalu merasa dirinya besar, sulit untuk merendahkan diri.Hal ini diakui dengan jujur oleh Muhammad Ali yang berkata,

 “It’s hard to humble, when you’re as great as I am.” 

Bagaimana bisa berempati dengan rakyat jelata jika setiap hari hanya tinggal di istana dan hanya turba saat ada pemilu saja?

Ketiga,arif.Ada pepatah yang sangat terkenal yang berbunyi: 

“It is better to remain silent at the risk of being thought a fool, than to talk and remove all doubt of it.” 

Atau versi lainnya: 

“Better to remain silent and be thought a fool than to speak and to remove all doubt.”

 Yang jadi, pertanyaan, siapakah yang mengucapkannya? Ada yang berkata Abraham Lincoln. Ada pula yang mengatakan Mark Twain. Maurice Switzer? Arthur Burns? John Maynard Keynes? Confucius? Atau bahkan Anonymous alias tak jelas? Yang jelas, bisa saja ungkapan bijak itu diambil dari Salomo yang berkata, “Even a fool is thought wise if he keeps silent, and discerning if he holds his tongue” (NIV) atau “Even a fool, when he holdeth his peace, is counted wise: and he that shutteth his lips is esteemed a man of understanding” (KJV). Bagaimana dengan Alkitab bahasa Indonesia? “Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya” (Amsal 17:28). Nah, pemimpin yang baik seharusnya lebih banyak bekerja ketimbang bicara.

Keempat, mengabdi kepada rakyat. Petunjuk jalan yang baik adalah orang yang pernah menginjak tempat yang akan dituju. Demikian juga dengan seorang pemimpin. Jika dia ingin mengabdi kepada rakyat, maka dia bukan hanya membayangkan atau mengatakan bahwa dia pro rakyat, tetapi yang bukan saja empati, tetapi pernah menjalani kehidupan sebagai rakyat jelata. “Aku hanya ingin agar Anda mempedulikan tetangga sebelah rumah Anda. Apakah Anda mengenal tetangga sebelah rumah Anda?” Pertanyaan sederhana dari Suster Teresa ini jelas bukan? Jika kita tidak bisa mengabdi kepada tetangga kita, bagaimana kita bisa mengabdi kepada rakyat yang lebih besar?

Kelima, memperjuangkan kemenangan rakyat, bukan kelompok mana pun. Artinya, pemimpin yang baik bisa mengayomi semua golongan, bukan golongannya sendiri. Agendanya jelas. Bukan bagi-bagi jatah hanya kepada orang-orang yang berjasa menghantarkannya menuju kursi kepemimpinan, melainkan menjadikan semua rakyat sejahtera.

Dari kelima kriteria pemimpin yang baik menurut Cak Nun, siapa yang kira-kira cocok untuk memimpin Indonesia lima tahun ke depan? Lalu, siapa pilihan Cak Nun sendiri? “Rahasia,” katanya.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

==[ Klik disini 2X ] [ Close ]==