Komunitas Royatul Islam (KARIM) HTI Gaya Baru | Dibuka Site Berita Online Anak Milenial

Komunitas Royatul Islam (KARIM) HTI Gaya Baru

komunitas


Hari Kamis tanggal 14/02/2019 Perkara kasasi HTI bernomor 27 K/TUN/2019 itu resmi diputus. Dalam putusannya, sidang yang dipimpin Hakim Agung Is Sudaryono itu menyatakan menolak gugatan HTI.

Kabiro Hukum dan Humas MA Abdullah membenarkan isi putusan tersebut.

"Mahkamah Agung menolak permohonan kasasi dari pihak HTI. Mahkamah Agung pada dasarnya sudah membenarkan putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara yang membenarkan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta," ujar Abdullah kepada BBC News Indonesia, Sabtu (16/02).


Bermodalkan Perppu No.2 tentang Organisasi Kemasyakaratan, pemerintah Indonesia mencabut badan hukum Hizbut Tahrir Indonesia. Langkah yang secara efektif membuat Indonesia menjadi negara ke-17 yang melarang kehadiran Hizbut Tahrir. Lewat Perppu itu, Indonesia mengikuti jejak negara-negara seperti Mesir, Yordania, Rusia, Jerman, Pakistan, hingga Malaysia yang telah lebih dulu membubarkan Hizbut Tahrir.

Oranisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) boleh jadi telah dibubarkan oleh pemerintah. Tetapi faktanya membubarkan organisasi itu tak sama dengan upaya menghapus paham yang radikal yang menjadi dasar dibubarkannya HTI oleh pemerintah.

Tantangan sesungguhnya dari pembubaran HTI bagi Pemerintah Indonesia adalah memastikan ideologi khilafah ikut terkubur seiring pembubaran organisasi tersebut. Sampai kapanpun patut dicatat gerak ideologis mereka tak akan pernah mati akan harus selalu diwaspadai bangkit dengan nama ataupun wujud lain namun dengan ideologi yang sama.

Seiring bubarnya HTI terbitlah KARIM (Komunitas Royatul Islam), benih HTI, komunitas muda Islam yang menyebarkan propaganda dan doktrin kepada anak-anak SMU atau komunitas pemuda. Sudah tentu gerakan mereka tidak menyebut HTI, namun tujuannya tetap sama tegaknya khilafah.

KARIM membawa legitimasi bendera Tauhid, sebagai simbol tegaknya khilafah Islamiyah ala HTI, KARIM ini akan bermain di ranah SMU dan komunitas anak-anak muda yang haus akan keislaman, akan tertarik dengan iming-iming heroisme Islam. Berbeda dengan Gema Pembebasan yang bermain di arena kampus.

KARIM bergerak ke targetnya melalui pembimbing/pembina Rohis di sekolah-sekolah dengan program full day school. Lewat pembimbing/pembina Rohis ini propaganda dan doktrinisasi dilancarkan, melalui pola pengajaran yang menarik, walaupun paham keagamaan para pembimbing Rohis sudah tentu dipertanyakan karena memang mereka bukan guru agama.

Tak sedikit para pembimbing Rohis itupun instan belajar agamanya. sewaktu kuliah di kampus-kampus umum bergabung dengan Ormas Islam terlarang. Dasar pendidikan agama yang lemah tetapi doktrinasi bertubi-tubi diberikan para mentor dan murabbi menyebabkan pola kesadaran rasional dan intuisi mereka tertutup.

Paham messianis alias kiamat sudah dekat begitu diyakini mereka. Kiamat bukan sekedar menjadi keyakinan tetapi dibuat menjadi bayang-bayang yang menakutkan, dengan tanda-tandanya yang sudah nyata. Agar selamat harus berbaiat kepada khilafah dan panji-panjinya. demikian doktrin mereka untuk menakut-nakuti umat.

Pikir mereka tak ada lagi harapan membangun peradaban dunia karena kiamat sudah dekat. Mereka hanya berpikir menjadi bagaimana menjadi golongan yang selamat. Tapi anehnya banyak dari mereka yang melupakan tanggung jawabnya sebagai anak shaleh: semisal orang tua disalah-salahkan karena tak sepaham dengan mereka. Mereka juga lalai akan tugasnya menjadi muslim yang beramal saleh untuk menanam kebaikan peradaban dunia sebagai lahan ladang akhirat.


Para pembimbing Rohis yang tergabung di KARIM itu sudah mulai bergerak seiring dengan dibubarkan HTI, doktrin dan propaganda dilancarkan masif ke golongan generasi muda yang haus agama dan hanya mau belajar agama secara instan.

Faktanya KARIM telah membuka cabang-cabang di kota besar dengan target anak SMU dan komunitas anak muda. Kegiatan mereka bukan hanya liqo dan kajian, tapi sudah tadabur alam, aksi-aksi sosial, mereka akan kejar apa kesukaan anak muda, ini patut kita waspadai bersama.
Bila kita tidak mewaspadai Gerakan mereka, niscaya 10 tahun lagi jumlah mereka bisa berjuta juta dengan pemikiran yang radikal.

Keberadaan KARIM dengan ideologi khilafah sebetulnya telah terlihat di acara reuni 212. Beredar surat terbuka dari Komunitas Royatul Islam untuk Para Mantan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Isi surat tersebut diantaranya mengajak para mantan HTI bergabung pada aksi reuni 212 yang sudah di depan mata.


KARIM dengan propaganda khilafahnya berpotensi memecah belah bangsa dan negara Indonesia. Berkali-kali perlu ditegaskan bahwa NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika adalah harga mati. Harapan terbesar adalah pemerintah cepat mengantisipasinya masifnya pergerakan KARIM ini.


Sumber : Seword.com