Dikantor DPP Gerindra Tidak Ada Penghitungan Real Count | Dibuka Site Berita Online Anak Milenial

Dikantor DPP Gerindra Tidak Ada Penghitungan Real Count



prabowo sandi

Lucu dan Memalukan! Ternyata Tidak Ada Penghitungan Real Count di DPP Gerindra


Saya tambah bingung mesti dengan istilah apalagi untuk menerjemahkan kubu Prabowo. Tingkah polahnya susah dinalar. Munkin dapat dikatakan Prabowo ialah peserta pilpres terjelek sepanjang sejarah. Pasalnya, baru kali ini terdapat peserta pilpres yang ngotot menang meskipun kalah di quick count. Baru kali ini pun KPU terus diintimidasi dan dituding curang. Baru kali ini pun kubu yang kalah menggelar pernyataan kemenangansampai 3 kali. Kira-kira kata apa yang pas guna menerjemahkan orang seperti ini?

BPN dan Prabowo keukeuh mengklaim telah mengerjakan penghitungan real count dan menang dengan angka 62 persen. Mereka ngotot tak mau mengakui quick count Lembaga Survei. Mereka bersikeras mereka punya data yang valid sampai-sampai berani menggelarpernyataan kemenangan. Ironisnya, saat ditantang buka-bukaan data oleh lembaga survei, BPN tidak jarang kali ngeles dan menghindar. Intinya tidak inginkan kedoknya terbongkar.

Ternyata sesudah ditelusuri, memang tidak terdapat penghitungan real count di DPP Gerindra. Sebelumnya Andi Rosiade menuliskan proses penghitungan real count berpusat di DPP Gerindra. Andre menyatakan mengumpulkan eksemplar isian C-1 dari semua Indonesia dan mempunyai pekerja yang banyak.


Tidak hanya Andre, Direktur Materi BPN, Sudirman Said sebelumnya pun mengatakan pihaknya memiiki kesebelasan yang bertugas guna menghitung hasil penghitungan suara Pilpres 2019. Namun ternyata kesebelasan ini bisa jadi besar tidak nyata. Pasalnya, tidak terdapat penghitungan real count di DPP Gerindra.

Untungnya, wartawan kompas sukses membongkar kedustaan mereka. Wartawan kompas mengunjungi kantor DPP Gerindra untuk memeriksa secara langsung apakah terdapat penghitungan real count atau tidak. Namun ternyata, petugas penerima tamu di DPP Gerindra menuliskan bahwa tidak terdapat sama sekali penghitungan real count di DPP Gerindra. Bahkan, Andre pun jarang sekali datang ke kantor DPP Gerindra. Petugas tamu mengatakan pekerjaan dipusatkan di Kertanegara, di lokasi tinggal Prabowo.

Sekarang telah jelas semua. BPN dan Prabowo memang layak disebut sebagai koalisi pembohong. Penghitungan real count internal BPN tidak ada. Saya kira perlu waktu yang tidak tidak banyak untuk dapat menghitung real count semua Indonesia. Sampai detik ini saja, penghitungan real count KPU baru 20 persen. Namun mirisnya, kubu Prabowo mengklaim telah berlalu menghitung real count malam hari sesudah pencoblosan. Ini benar-benar spektakuler dan susah dipercaya.

Maka layak saja saat diminta buka-bukaan data, BPN tidak jarang kali menolak. Mereka tak berani buka-bukaan data sebab memang tak punya data. Angka 62 persen hanya klaim saja. Penghitungannya barangkali seperti yang diterangkan oleh Arif Poyuono yakni dengan teknik menghitung jumlah provinsi menang, dipecah dengan jumlah provinsi di Indonesia, kemudian dikali seratus persen.

Ternyata BPN memang benar-benar sudah menyebar kebohongan. Mengaku telah melangsungkan penghitungan real count internal, ternyata tidak terdapat penghitungan sama sekali di DPP Gerindra. Andre bahkan jarang sekali datang ke kantor DPP Gerindra.

Benar-benar memalukan. Mereka rela menciptakan kebohongan hanya demi ambisi berkuasa. Mereka mendustai pendukungnya sendiri supaya tetap militan mengopinikan bahwa Prabowo pemenang pilpres 2019. Bahkan, pendukungnya juga tak diberi tahu sumber data yang dipakai sebagai landasan untuk Prabowo guna mengklaim kemenangan. Yang tahu soal timbulnya angka 62 persen hanya Prabowo dan BPN. Pendukungnya hanya dijadikan alat guna terus menggembor-nggemborkan bahwa Prabowo pemenang Pilpres 2019.

Jujur saya kira ulah BPN dan Prabowo benar-benar memalukan semua rakyat Indonesia. Tidak hanya BPN dan Prabowo yang malu, tapi semua rakyat Indonesia. Memiliki capres yang enggan menerima kekalahan, bahkan menciptakan kebohongan ialah sangat memalukan. Dunia internasional juga sampai mengejek dan mentertawakan Prabowo. Ini menjadi tamparan keras. Seolah-olah di Indonesia tidak terdapat orang yang kompeten sampai-sampai orang laksana Prabowo dapat jadi capres.

Semoga sesudah ini Prabowo berhenti guna kembali nyapres. Saya tidak hendak keributan dan kekisruhan ini terjadi. Semoga saja telah tidak terdapat partai yang inginkan berkoalisi dengan Gerindra untuk mengangkat Prabowo di Pilpres 2024. Cukup pilpres 2019 ini menjadi ajang terakhir Prabowo menciptakan malu Indonesia.

Jangan hingga di pilpres-pilpres ke depan KPU dituding culas lagi. Jangan hingga ada lagi capres yang kalah malah menggelar pernyataan kemenangan. Jangan hingga ada lagi yang tak percaya dengan quick count. Quick count ialah ilmu pengetahuan. Hanya orang barbar dan primitif yang tidak percaya dengan ilmu pengetahuan.