Lagi Lagi Sandiaga Tak Sejalan Dengan BPN - dibuka.site

Lagi Lagi Sandiaga Tak Sejalan Dengan BPN

Hallo sahabat Berita Online Anak Milenial dimanapun anda berada,Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul " Lagi Lagi Sandiaga Tak Sejalan Dengan BPN ",telah kami persiapkan dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya.mudah-mudahan apa yang kami tulis ini dapat anda pahami.selamat membaca.

sandiaga uno tak sejalan BPN


Sandiaga uno sangat sejutu jika Jokowi dan Prabowo bertemu untuk rekonsiliasi

Setelah pengambilan suara, rekonsiliasi diserukan oleh sekian banyak  pihak bahwa hal tersebut perlu dilaksanakan . Pertemuan dua kubu yang bersaing diharapkan bisa memberikan contoh yang baik untuk akar rumput pemilih masing masing pasangan bahwa perbedaan sikap dan pilihan tersebut wajar, tetapi anda masih satu bangsa jadi mesti tetap mengawal persatuan dan silaturahmi.

Memang telah saatnya, semua tokoh politik sampai pemuka agama membawa lagi semua akar rumput yang sempat tersulut emosi lantaran lain pilihan. Itu mesti dilaksanakan oleh orang-orang yang waras dan mengharapkan Indonesia lebih dewasa dan menjadi kian baik dalam berdemokrasi.

Jokowi sendiri sebagai seorang pemimpin yang mementingkan persatuan bangsa telah mengutus orangnya supaya dapat bertemu dengan Prabowo. Tetapi, sampai detik ini belum ada firasat Prabowo inginkan bertemu dengan Jokowi.

Untuk orang-orang dikubu Prabowo sendiri terkesan menangkal Prabowo untuk mengerjakan rekonsiliasi atau paling tidak bertemu dengan Jokowi di masa-masa dekat ini. Namun Sandiaga Uno yang notabene menjadi cawapresnya Prabowo dalam kontestasi pilpres saat ini, menekankan pentingnya Prabowo bertemu Jokowi segera mungkin sebelum penetapan hasil pilpres.

"Setuju, sangat setuju (Prabowo bertemu Jokowi)," kata Sandiaga ketika dimintai tanggapan di Gedung Senam, Jl Raden Inten, Jakarta Timur, Jumat (26/4/2019).


"Iya (setuju)," terang Sandiaga ketika ditanya apakah setuju andai pertemuan Prabowo-Jokowi dilangsungkan sebelum tanggal 22 Mei, atau hari penetapan rekapitluasi Pilpres 2019, seperti yang dikutip oleh detik.com.

Berbeda dengan Sandiaga Uno, BPN malah membuat pernyataan pertemuan sebelum penetapan pemengan itu gak ada urgensinya.


"(Pertemuan) sebelum 22 Mei 2019? Ya nanti disaksikan situasinya. Waktunya kapan, nanti disaksikan apakah sebelum atau setelah 22 Mei. Kan tersebut masalah teknis. Prinsipnya pertemuan tersebut pasti terjadi nantinya. Kalau hendak merangkul pak prabowo, dalam konteks apa? Kalau kini harus bertemu, tersebut urgensinya apa?" ujar juru debat BPN Ahmad Riza Patria ketika dihubungi detikcom, Sabtu (27/4/2019).

Meskipun secara halus, disaksikan dari pentidakuan BPN di atas, tersebut jelas sebuah hal yang berbeda dengan kemauan Sandiaga Uno sang cawapres yang diusung. Apakah tersebut menandakan keretakan dan saling tonjok di kubu Prabowo? Apalagi Sandiaga Uno pun menuliskan pemilu ketika ini berlangsung dengan jujur dan adil, lain dengan klaim Prabowo dan BPN yang ingin menggiring opini bahwa pemilu ketika ini penuh dengan kecurangan, meskipun tuduhan itu tanpa data yang bisa dipercaya.

Sandiaga Uno yang melawan arus dan berbeda dengan kubunya sendiri meskipun halus paling kental dengan menabuh genderang perang secara terbuka. Jika yang berlawanan antar anggota BPN tersebut wajar, tetapi andai yang berlawanan itu Capres dan Cawapres,tersebut yang saya rasa tidak wajar, sebab idealnya mereka satu suara dan satu pemikiran. Apalagi andai yang berlawanan antara BPN dan cawapres,Hal tersebut yang lebih tidak masuk akal, sebab adanya BPN tersebut untuk menyokong calon yang bakal diusungnya.

Dari kejadian itu seperti mencerminkan bahwa dalam kubu Prabowo mempunyai berjuta kepentingannya masing-masing, seluruh berjalan dengan agendanya masing-masing, tidak terdapat kesatuan pikiran.


Kita dapat bayangkan bila kubu Prabowo yang menang, negara ini bisa jadi besar menjadi tidak karuan sebab dalam kubu mereka tidak dapat pemikiran yang sejalan. Jika kita hendak membuat perumpamaan dengan mengibaratkan bangsa Indonesia ialah sebuah kapal, dan Presiden tersebut kaptennya, cawapres wakil kaptennya, sementara yang lainnya tersebut krunya,andai tidak terdapat satu pemikiran dalam menilai arah destinasi kapal anda mau diangkut kemana, yang ada anda akan berhenti di lokasi dan tidak bergerak kemana-mana. Kita bakal jauh ketinggalan dengan negara lain.

Perumpamaan saya di atas sebenarnya nyaris serupa dengan pemerintahan di era SBY, ketika tersebut SBY hendak menarik subsidi BBM, namun karena tersebut keputusan tidak popular maka PKS pun menampik dan tidak menyetujuinya. Padahal urusan tersebut sangat urgen untuk memperhitungkan subsidi BBM guna hal yang lebih produktif, tidak habis dihanguskan dan tak memiliki pengaruh di masa yang bakal datang. Karena tidak satu pikiran, dan diisi berjuta kepentingan, keputusan urgen yang seharusnya dipungut pada saat tersebut pun tidak bisa diambil. Pembangunan anda pun tidak dapat melaju dengan cepat, sebenarnya pembangunan ialah investasi jangka panjang guna kita dapat melaju cepat memburu ketertinggalan kita.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

==[ Klik disini 2X ] [ Close ]==