Menyatakan Menang 62% Tapi Tak Punya Data C1 - dibuka.site

Menyatakan Menang 62% Tapi Tak Punya Data C1

Hallo sahabat Berita Online Anak Milenial dimanapun anda berada,Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul " Menyatakan Menang 62% Tapi Tak Punya Data C1 ",telah kami persiapkan dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya.mudah-mudahan apa yang kami tulis ini dapat anda pahami.selamat membaca.


Ahmad Riza BPN

Aneh BPN Minta Akses C1, TKN Tanyakan Asal Klaim Menang 62% Dari Mana ?


Dibuka.site - Ibarat anak kecil yang sedang memperebutkan pepesan kosong, kubu Prabowo menyatakan memenangkan pilpres, tetapi terbukti pihaknya tak mempunyai form C1 sebagai bahan baku penghitungan pendapatan suara.

Tak tanggung-tanggung angka pendapatan yang dianggap bahkan menjangkau 80 persen, seperti dinyatakan oleh Ketua BPN, Djoko Sanoso pada ketika Syukuran Kemenangan Prabowo di TMII, Rabu 24 April 2019.

Ahmad Riza mengakui pihaknya meminta untuk Bawaslu untuk mengakses form C1, dengan asumsi form itu ialah milik publik. Permasalahannya, arti surat permintaan sah itu lumayan penting.


Karena memberi isyarat bahwa BPN sekitar ini mengaku pengakuannya sudah memenangkan Pilpres menurut perhitungannya sendiri, kemudian dasar pengakuannya laksana apa,andai form C1 saja baru mereka mintakan ketika ini ?

Bahkan andai mereka mempunyai saksi yang tersebar di semua TPS, tentu dengan gampang mereka dapat mengumpulkannya. Namun naga-naganya, guna mengkompulir form itu merekamendatangi kesulitan, sampai-sampai alih-alih secara berdikari memberikan bukti bahwa mereka sudah menghitung pendapatan suaranya, malah memperlihatkan pernyataan palsu terhadap pernyataannya sekitar ini.

Anggota Bawaslu, Mochammad Afifuddin menuliskan Badan Pemenangan Nasional Prabowo (BPN) Subianto – Sandiaga Uno telah mengemukakan permintaan guna mendapatkan dokumen C1. "(Mereka) bersurat resmi," ujar Afifuddin ketika dihubungi di Jakarta, Kamis, 25 April 2019.

Dokumen C1 ialah dokumen yang berisi pendaftaran penghitungan suara di tiap Tempat Pemungutan Suara (TPS). Afifuddin menyatakan tidak ingat kapan surat tersebut diterima lembaganya. "Lupa, tanya Pak Ketua ya," ungkap dia.

Afifuddin menjelaskan dokumen C1 Plano adalahdokumen umum. Dimana seluruh orang pun diperkenankan guna mendokumentasikan atau memfoto eksemplar isian C1 Plano di masing-masing TPS. "Klaupun tidak mohon ke kita, memfoto di seluruh TPS pun dapat. C1 Plano terdapat di masing-masing TPS-TPS," ujar dia.

Sebelumnya kubu calon presiden pasangan nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi – Ma’ruf Amin mengasumsikan BPN sedang me-lobby Bawaslu guna mendapatkan dokumen C1. “Saya bisa informasi bila BPN sedang melobby Bawaslu guna dapatkan dokumen C1,” kata Hasto Kristiyanto, Sekjen PDI Perjuangan, dalam penjelasan tertulisnya, Kamis, 25 April 2019.

Dugaan itu dilontarkan oleh PDI Perjuangan menanggapi sikap BPN yang sampai saat ini tidak inginkan membuka data hasil pendapatan suara, namun mengerjakan klaim kemenangan sendiri. Dia menuliskan hal ini menjadi wajar bilamana publik mendakwa klaim kemenangan yang dilaksanakan hanyalah perbuatan provokasi tanpa bukti. “Stop klaim menang sepihak tanpa hasil rekapitulasi," ujarnya. sumber : BPN Terbukti Minta Jasa Bawaslu Akses Form C1.

Jika TKN Jokowi-Amin menuding BPN sedang melobi Bawaslu berhubungan permintaan duplikat C1, bukan dalam makna mempersoalkan legalitas permintaan tersebut, tetapi lebih untuk keabsahan klaim kemenangannya.

Namun alih-alih mengetahui arah percakapan Hasto Kristiyanto sebagai mengasumsikan kejadian lobi-melobi itu, Ahmad Riza laksana belagak pilon, dengan menepis tudingan Hasto sebagai tak patut mempermasalahkan surat yang resmi untuk Bawaslu.

Juru kampanye nasional Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Ahmad Riza Patria, menyangkal disebut melobi Bawaslu guna mendapatkan dokumen C1. Namun, Riza membetulkan kubunya bersurat untuk penyelanggara pemilu itu.

’Kami enggak melobi, kami buat surat secara sah kan enggak masalah. Kami berkirim surat yang intinya bisa mengakses," kata Riza di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis, 25 April 2019. sumber : BPN Salah Terka Tentang TKN Persoalkan Suratnya Minta Form C1.

Kalau anda analogikan dengan pertandingan tinju yang mana BPN sebagai di antara petarungnya yang sedang terdesak, kelihatannya BPN sedang mencari teknik mengulur masa-masa untuk memungut nafas. Karena bahan baku yang diperlukannya tidak dipegangnya, maka BPN memohon pertolongan kepada wasit guna memberinya peluang bernafas.

Disesalkan sang wasit terlampau lugu untuk disuruh bekerjasama, alih-alih memberinya kesempatan, malah memberi isyarat untuk petarung satunya, yaitu TKN bahwa lawannya meminta waktu memungut nafas.

TKN pun pasti keberatan wasit meluluskan permintaan lawannya, sebab sebagaimana dirinyamengerjakan usaha sendiri mengoleksi bukti dan bahan baku pendataan suara, maka seharusnya BPN juga melakukan teknik yang sama, dan bukan meminta pertolongan kepada Bawaslu sebagai wasit.

Yang lebih menggelikan, bagaimana BPN beserta sang capres demikian berani memberitahukan klaimnya, sedangkan metode quick count yang sekitar ini selalu memperlihatkan akurasi yang tinggi, tak menciptakan sang pemenang merasa jumawa untuk mengibarkan bendera kemenangan.

Jokowi-Amin mengetahui situasi psikologis kontestan lawan, yang tentu akan merasa tak nyaman bila sebelum pemberitahuan resmi, mereka sudah mengakui kemenangan. Namun rupanya sikap menyangga diri pihak Jokowi, malah dimanfaatkan Prabowo yang secara kasat mata paling terlihat kebelet berkuasa.

Ironisnya, pengakuan tersebut seiring berjalannya waktu, semakin kelihatan palsu, sebab di samping mereka tak mau buka-bukaan data, pun tak mau menyebut tempat penghitungan kemenangannya, serta diperkuat dengan munculnya kenyataan mereka masih berupaya mengoleksi atau mengumpulkan form C1 melewati jasa Bawaslu.

Kalau dalil BPN guna mencocokkan bukti versi yang dipegangnya dengan kepunyaan Bawaslu, toh forumnya sendiri belum disepakati. Seharusnya mereka mengumpulkannya secara mandiri, contohnya di situs KPU yang lebih memungkinan diakses dengan mudah.



Sumber

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

==[ Klik disini 2X ] [ Close ]==