Tol Darat,Udara,Laut Dan kini Tol Listrik | Dibuka Site Berita Online Anak Milenial

Tol Darat,Udara,Laut Dan kini Tol Listrik


Tol listrik 2019

Tidak habisnya Joko Widodo membina negeri ini dengan metodenya yang barangkali sangat susah untuk diterima rakyat Indonesia. 


Selama periode kesatu pemerintahannya sudah tidak sedikit yang dilaksanakan Jokowi membina negeri ini. Fakta banting tulang Jokowi yang sekarang dinikmati oleh Indonesia termasuk juga oleh kaum nyinyir. Kini sesudah pembangunan tol di darat, laut, dan udara, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) punya program tol listrik.

Apa tersebut tol listrik?


Program tol listrik bakal dibangun dari ujung unsur utara sampai unsur selatan Pulau Sumatra. Ini ialah program dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT PLN (Persero). Proyek tol listrik ini terbentang dari Sumatra Selatan sampai Medan. Petanya dari Lahat-Lubuk Linggau-Bangko-Muara Bungo-Kilranjao-Payakumbuh-Padang Sidempuan-Sarulla-Simangkok-Galang. Adapun guna tahun ini pengerjaan tol listrik ini dari Sumatra Selatan ke Sumatra Utara. Kemudian bertahap setelah tersebut tersambung dilanjutkan Sumsel-Lampung dan Sumut-Aceh.

Dimana saja peta tol listrik yang telah tersedia?


"Di Indonesia kini sudah terdapat (tol listrik) di Jawa 500 kV. Di Sumatra 150 kV menghampar dari Sumatra Utara-Aceh. Sampai Sumatra Barat 150 kV pun dari Lampung-Jambi, dan secara bertahap. Tahap yg dimungkinkan tahun ini Sumatra Selatan-Utara panjangnya 2.900 km. Itu dari Lahat-Sarulla. Hampir berlalu tahun ini," papar Dwi ketika dihubungi Kamis (11/4/2019). Dikutip dari: cnbcindonesia.com

Apakah tol listrik ini menjamah pulau lain


Pada dasarnya semuda tergantung pada demand (permintaan). Bahwa mengingat keperluan listrik di Sumatra lumayan pesat, yaitu 5% sampai 6%, maka tol listrik ini butuh dibangun sesegera mungkin.

Melihat ini semua pengarang tidak berakhir mengerti bagaimana masih saja kaum nyinyir tidak henti-hentinya menggerutu, dan dungunya baru-baru ini terayun dengan wacana penurunan tarif listrik sejumlah 20% dalam 100 hari yang dilontarkan oleh Prabowo, capres dari kubu 02 andai terpilih.

"Insyallah bila dapat mandat dari rakyat, kami bakal turunkan harga-harga. Hitungansemua pakar, Bung Rizal Ramli [eks Menko Maritim] 100 hari kesatu tarif listrik dapat turun. Saya tanya, mengapa selama ini tinggi? Biasa Pak, tidak sedikit yang mohon setoran," ujar Prabowo dibuntuti tepuk tangan ribuan pendukungnya, Minggu (7/4/2019). Dikutip dari: cnbcindonesia.com

Konyolnya, tahapan yang akan dipungut oleh Prabowo nantinya guna menurunkan tarif listrik andai terpilih (amit-amit banget) ialah dengan menyerahkan subsidi untuk PLN. Tujuannya supaya PLN tak merasakan kerugian.

Wkwkwk….., memimpin negara kok ngegampangi seperti tersebut sih paslon 02 ini? Apa bedanya penyelesaian yang mereka tawarkan tersebut dengan “memanjakan” rakyat seperti dahulu yang dilaksanakan rezim Orde Baru. Membuat rakyat larut dalam kenyamanan sekitar 32 tahun namun tidak terdapat pembangunan yang nyata! Rakyat benar-benar dibutakan dengan subsidi!

Baiklah anda tanyakan apakah bisakah tarif listrik turun signifikan dalam 100 hari?

Jawabannya bisa! Ignasius Jonan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengatakan tersebut bukan urusan yang mustahil. Bahwa subsidi guna menurunkan tarif listrik diduga Rp 50 triliun sampai Rp 60 triliun. Artinya, subsidi yang disiapkan menjangkau dua kali lipat dari perkiraan tahun ini. Tahun ini, perkiraan subsidi listrik diputuskan sebesar Rp 57 triliun.

"Kalau inginkan turun 20% ya subsidi Rp 100 triliun hingga Rp 120 triliun. Kalauinginkan ditempuh tersebut pasti bisa. Tinggal DPR setuju apa tidak?," paparnya. Dikutip dari: cnbcindonesia.com

Tetapi, tunggu dulu! Apakah tersebut solusi yang arif dan cerdas?


Wkwk…tentu saja tidak! Subsidi ialah solusi sesaat dari pemimpin yang tidak membangun! Solusi dari pemimpin yang visinya mentok, dan menyuruh rakyatnya hidup tidak melulu jalan ditempat namun melangkah mundur, hidup ke zaman kuda gigit besi!

Berbeda sekali dengan yang telah, sedang dan akan dilaksanakan Jokowi di periode kedua pemerintahannya nanti. Jokowi menyerahkan kesempatan untuk setiap rakyat di negeri ini untuk merasakan listrik, ia menghadirkan listrik di masing-masing pelosok negeri ini nantinya. Tetapi pastinya tidak dapat dalam sekejap, dan pastinya memerlukan biaya! Artinya, Jokowi memang tidak menggunakan duit yang ada kini untuk subsidi, tetapikebalikannya petahana mengerjakan pembangunan infrastruktur, dalam urusan ini salah satunya tol listrik!

Harus diingat, alangkah Indonesia ini negara yang besar. Masih tidak sedikit terdapat sejumlah wilayah di Indonesia yang belum terakses listrik. Jika hendak subsidi yang dinaikkan, dengan kata lain listrik hanya dapat dinikmati oleh mereka yang telah punya akses listrik saja laksana di kota-kota.

"Itu mau guna subsidi atau pembangunan. Pilihan masing-masing pemerintahan maunya bagaimana, apa inginkan bangun jalan lagi, bangun kelistrikan di desa desa atau bagaimana? Yang belum terdapat layanan kelistrikan justeru tidak bisa subsidi sama sekali andai tarif diturunkan. Prinsip keadilan sosialnya ini bagaimana nantinya." ujarnya (Jonan). Dikutip dari: cnbcindonesia.com

Saudaraku rakyat Indonesia, tentunya mengenal saudara-saudara Papua kita. Infrastrukturlah yang menyerahkan terang di tanah Papua. Hal yang sama pun nantinya dialami dengan program tol listrik yang dibuka merata dari pulau Sumatra dan pulau-pulau lainnya, dicocokkan dengan kebutuhan supaya listrik nantinya bisa dinikmati merata. Inilah pembangunan yang sesungguhnya, tidak melulu milik segelintir orang namun milik bersama.

Subsidi hanyalah “bom waktu” yang tidak pernah mengajarkan kemandirian. Inilah yang terjadi dari mereka yang sekitar ini dibohongi dengan kata murah promo tumpuan dari “Rezim Orde Baru.” Sebuah kenyataan lainnya, subsidi tidak melulu menghentikan pembangunan, tetapi pun telah mempersempit teknik pikir rakyat. Rakyat dihipnotis dengan kata murah, namun tidak sadar bahwa pembangunan dibeberapa bidang terhenti! Berakhir dengan dekadensi atau kemunduran negara.

Sumber