Ali Moertopo Si Raja Intel Indonesia - dibuka.site

Ali Moertopo Si Raja Intel Indonesia

Hallo sahabat Berita Online Anak Milenial dimanapun anda berada,Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul " Ali Moertopo Si Raja Intel Indonesia ",telah kami persiapkan dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya.mudah-mudahan apa yang kami tulis ini dapat anda pahami.selamat membaca.


Perwira Cerdas Pada Zaman ORBA

raja intel


Dibuka.site - Sejak awal mula Soeharto jadi presiden, Ali Moertopo ialah orang kepercayaannya untuk urusan politik. Posisinya sebelum jadi menteri penerangan tak lebih dari wakil kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN), namun Opsus atau operasi eksklusif yang dipimpinnya luar biasa. Sebelum terdapat Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), di akhir era 1950-an, Ali Moertopo telah jadi perwira intelijen di Jawa Tengah. Ia pun pernah menjabat komandan kompi Banteng Raider. Ketika Soeharto tercebur Operasi Mandala Trikora pembebasan Irian Barat, Ali Moertopo pun ikut serta.

Ali Moertopo dirasakan sebagai orang kepercayaan Soeharto karena—paling tidak menurut keterangan dari Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia (2007: 42)—“reputasinya sebagai perwira yang dapat memecahkan masalah secara efisien.“ “Selama konfrontasi (dengan Malaysia), ia tetap bertanggungjawab untuk Soeharto dan mengepalai unit Operasi Khusus (Opsus), yang bertugas melawan pihak persemakmuran dan, dengan segala kelenturannya, ia pun berperan penting dalam memimpin negosiasi yang sukses dalam menyelesaikan konflik,” tulis Ken Conboy (hlm. 42-43).

Dalam kitab Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966 (2004: 79), Rum Aly bercerita bagaimana Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letnan Jenderal Ahmad Yani bertemu semua perwira Kostrad dan mengisahkan kekhawatirannya soal konfrontasi Dwikora melawan Malaysia itu. Letnan Kolonel Ali Moertopo terdapat di sana dan mempertanyakan fungsi dari konfrontasi tersebut. Ali mengusulkan supaya konfrontasi dihentikan. 

Bagaimana caranya?” tanya Yani. 

Ali juga menjawab: “Serahkan pada saya.” Kemudian lahirlah Opsus di tubuh Kostrad pada 1964.

Naik daunnya Soeharto sesudah Sukarno lengser perlahan dari kursi kepresidenan, pun dibarengi oleh melejitnya karier Ali Moertopo. Di samping diberi jabatan Wakil Kepala BAKIN, Ali juga masih memimpin Opsus yang cakupannya kian membesar. Ia pun dikenal sebagai di antara anggota Staf Pribadi (SPRI) dan Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto di tahun-tahun awal mula Orde baru. Untuk hal politik, Soeharto sudah semenjak dulu percaya Ali Moertopo.

Seseorang Yang Jago Dalam Memecahkan Masalah 


Dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD (1988: 210), Harsya Bachtiar menuturkan bahwa Ali Moertopo alumni SMP zaman kolonial Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) pada 1941, sedangkan Soeharto hanya pernah dididik di Schakelschool (sekolah sambungan sesudah taman sekolah dasar tiga tahun) yang lulusannya kira-kira setara SD kolonial Hollandsch-Inlandsche School (HIS).

Segala organisasi dan partai di masa Orde Baru berada di bawah pemantauan Moertopo. Partai dan ormas dikendalikan sepenuhnya supaya sejalan dengan kehendak Soeharto. Dalam otobiografi Soemitro yang dibentuk oleh Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 74 (1998: 280-281) kesuksesan Opsus di bawah Ali membayang-bayangi gerak Biro Pusat Intelijen (BPI) Soebandrio. Soeharto pun mempercayakan penggalangan sokongan politik untuk Moertopo. Ia berperan besar dalam penyederhanaan partai-partai politik. Sebelum 1971, ada tidak sedikit jumlah partai dan lantas difusikan jadi 10 partai. Partai-partai ini semakin mengerucut lagi menjadi tiga partai yaitu Partai Parsatuan Pembanuntukn (PPP) yang berisikan eks partai-partai Islam, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang berisi kumpulan partai nasionalis, dan Golongan Karya (Golkar).

“Dalam Pemilu 1971, Ali Moertopo melewati Badan Pengendali Pemilihan Umum (Bappilu) memungut peranan yang paling penting untuk kemenangan Golkar,” tulis Akbar Tanjung dalam The Golkar Way (2007:218). Semua tahu Golongan Karya (Golkar) ialah alat pemulus dominasi Soeharto selama Orde Baru. Di samping jago memecahkan masalah, menurut keterangan dari Ken Conboy (2007: 146-145) Ali Moertopo ialah seseorang yang beranggapan di luar kelaziman normal.” Operasi Khusus (Opsus) yang dipimpin Ali Moertopo untuk menghabisi komunis di Indonesia disinggung “bersinergi dengan kaum ekstremis berkedok agama” di antaranya ialah kelompok bekas Darul Islam (DI). Sekitar 1968, terdapat pula kelompok mempunyai nama Komando Jihad yang ditangani Pitut Soeharto. Meski bukan Kepala BAKIN, Ali Moertopo bukan orang orang sembarang di jajaran BAKIN. Opsus membuatnya bisa melakukan lebih ketimbang jenderal-jenderal di Bakin. Opsus yang dipimpinnya begitu dominan, baik untuk urusan luar dan dalam negeri. Karier Ali di Bakin selesai sampai 1978. Setelahnya dia menjabat Menteri Penerangan sampai 1983.

Ali Murtopo Seorang Perwira Cerdas 


Di mata lawan politiknya, Jenderal Soemitro, Moertopo ialah orang cerdas (1998:182). “Ia cerdas, daya tangkapnya di atas rata-rata dan rajin menyimak […] senantiasa inginkan belajar tentang segala hal. Ia senang mendengar pendapat orang,sebab ia orang intelijen jadi mesti mendengar. Teman-teman dekatnya yakin, bila ia dibekali edukasi yang tinggi maka ia kan mempunyai kapasitas mendekati Bung Karno,” aku Soemitro.

Ali Moertopo ialah anak saudagar Blora. Begitu tamat HIS, ia melanjutkan ke MULO sampai lulus. “Dulu, saya tak bercita-cita jadi tentara,” aku Ali Moertopo pada Tempo (28/01/1984). Tiap kali rumahnya anggota family yang berlatar belakang tentara, Ali buang muka. Dia menyatakan tak ikutan pelajaran semi militer ala Jepang. Bahkansaat orang ramai belajar bahasa Jepang, Ali tak ikut. Dia mengaku hanya tahu sayonara saja.

Berdasarkan keterangan dari Tempo (20/10/2013), Ali Moertopo sempat jadi milisi Belanda pada 1942. Namun dia kabur saat Belanda diambang kekalahan. Otobiografi Soemitro menyebut: “katanya (Kasman Singodimedjo) Ali Moertopo dulu bekas tentara Angkatan Laut Belanda, dia unsur dari spionase Nederlands Force Intelligence Service (NEFIS). Kemudian tertangkap di wilayah Tegal oleh Hizbullah” (1998:278).

Di Tegal, Ali hampir dibunuh. Tapi komandan Hizbullah justeru memanfaatkannya sebagai agen ganda. Benar-tidaknya kisah dari Kasman itu, toh Ali ikut revolusi kebebasan Indonesia juga. “Ali Moertopo dengan kawan-kawannya dalam kesatuan aktif di tengah perang gerilya, baik dalam Aksi Militer Belanda I maupun II, serta penumpasan pemberontakan PKI Muso di Madiun. Dia dan kesatuannya beroperasi di wilayah Parakan — Wonosobo,” tulis Krissantono dalam “Ali Moertopo di Atas Panggung Orde Baru” yang keluar di jurnal Prisma edisi eksklusif ulang tahun ke-20 (1991: 138). Jika dulu tak berangan, sesudah revolusi Ali larut dalam tren profesi di zaman itu: jadi tentara. Motivasinya bahkan tinggi.

Meski alumni MULO, dia tak langsung jadi perwira. Dia tak populer di masa revolusi, dan mulai karier dari bawah. Kepada Tempo (28/01/1984), ia mengatakan, “Ketika masih bergerilya dengan pangkat prajurit, saya hanya menginginkan menjadi sersan mayor. Entah kenapa, namun rasanya menjadi sersan mayor kok gagah. Setelah saya menjadi bintara, saya merindukan menjadi kapten.”

“Tuhan, mbok saya diberi peluang menjadi kapten,” doa Ali tiap usai salat.


 Usai revolusi, tepatnya pada 1950, Ali Moertopo yang masih berpangkat Pembantu Letnan, ditarik dan dilatih oleh Letnan Kolonel Ahmad Yani sebagai anggota Banteng Raiders. Di satuan tersebut dia pernah jadi komandan kompi dan pangkatnya naik ke posisi Kapten di akhir era 1950-an. Setelah menjadi kapten, Ali mengaku, ambisinya seolah berhenti.

“Waktu masih perwira, saya tidak senang bila ada orang bicara politik. Kalau teman-teman saya bicara politik, pistol yang saya cabut. Tapi bila orang bicara kiat dan strategi kemiliteran, atau motivasi korps, saya inginkan meladeninya,” aku Ali untuk Tempo. Otobiografi Soemitro mengaku bahwa prestasi Ali di medan pertempuran lumayan baik, terutama ketika memadamkan pemberontakan PRRI di Sumatera tahun 1958. Ali menyatakan “sejak masih prajurit, saya lebih senang berkecimpung di medan pertempuran” (hlm. 279).

Atasan Ali Moertopo di Jawa Tengah ialah Yoga Soegomo yang usianya lebih muda. Yoga Soegomo lahir 12 Mei 1925 dan Ali diduga lahir 1924. Tanggal lahirnya tidak jelas. Ali ingat sekali ucapan Yoga Soegomo soal pangkat.

 “Selama di Indonesia ini masih terdapat kekacauan, pasti anda naik pangkat. Tapi bila Indonesia telah tenang, tidak boleh harap anda naik pangkat,” kata Yoga laksana ditirukan Ali untuk Tempo (28/01/1984).

Tak salah memang. Selama terdapat kekacauan maka seorang tentaraberkesempatan naik pangkat dengan cepat. Di zaman KNIL, seorang perwira dapat naik pangkat per sepuluh tahun. Di TNI zaman kini, empat tahun sekali seorang tentara dapat naik pangkat.

Ketika menumpas PRRI, “Yoga mengusulkan kepada panglima supaya Ali Moertopo mendampinginya sebagai Kepala Staf menggantikan Katamso. Usul itu diterima dan Ali berangkat ke Bukittinggi, sedangkan pangkatnya ditingkatkan menjadi Mayor,” tulis B. Wiwoho dan ‎Bandjar Chaeruddin dalam kitab Memoar Jenderal Yoga (1990: 104). Setelah PRRI ditumpas dalam masa-masa singkat, pangkat Ali naik jadi Mayor. Pada 1965, posisinya telah menjadi Letnan Kolonel.

Masih menurut keterangan dari otobiografi Soemitro (hlm. 280), Ali Moertopo "tiba-tiba muncul seperti jatuh dari langit. Saya mendengar namanya saat dia menjadi staf pribadi Presiden (SPRI) bersama-sama Jenderal Soedjono Hoemardani dan Jenderal Soerjo".

Dari kolonel, pangkatnya terus melejit sampai Brigadir Jenderal, lantas Mayor Jenderal. “Dari militer kok dapat menjadi menteri, kemudian menjadi pejabat lagi di DPA. Waduh, senangnya tak terkirakan. Ini adalah pengalaman yang tidak gampang tercapai teman-teman lain,” ujar Ali Moertopo dengan bangga pada Tempo, sebelum meninggal pada 15 Mei 1984, tepat hari ini 35 tahun lalu, di Jakarta.


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Ali Moertopo Si Raja Intel Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

==[ Klik disini 2X ] [ Close ]==