Ir Soekarno,Nasionalisme Islamisme dan Marxisme - dibuka.site

Ir Soekarno,Nasionalisme Islamisme dan Marxisme

Hallo sahabat Berita Online Anak Milenial dimanapun anda berada,Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul " Ir Soekarno,Nasionalisme Islamisme dan Marxisme ",telah kami persiapkan dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya.mudah-mudahan apa yang kami tulis ini dapat anda pahami.selamat membaca.


Gagasan Besar Tentang Bersatunya Tiga Ideologi Nasionalisme,Islamisme dan Marxisme


Pemahaman dasar

NASIONALISME, Islamisme, dan Marxisme sesuatu format paham yang memang seharusnya diketahui serta dipahami dan dicerna sejak dini, dan tidak memblokir kemungkinnan banyak Masyarakat awam ketidak tahuannya mengenai hal demikian namun mereka telah menerapkan dalam kehidupannya. Memahami Nasionalisme tidak lantas bersikap cinta tanah air dan antipati terhadap bangsa lain. Pemahaman semacam ini ialah sebagian dari nasionalisme sempit (eksklusif) yang tidak sejalan dengan paham Soekarno, yang memberikan rumus praksis mengenai nasionalisme yang mengangkat spirit kebangsaan, sarat martabat, dan tidak merendahkan bangsa lain.

Begitu juga dengan Islamisme dan Marxisme atau Sosialisme. Soekarno menyandingkan dengan kedua-duanya dengan coba melakukan penentangan terhadap kapitalisme yang kini ini merajarela di negeri kita ini serta kita sudah dibutakan oleh paham kapitalisme yang jelas-jelas menyebabkan terjadinya stratifikasi sosial yang destruktif. Kapitalisme di mata Soekarno ialah sebentuk ideologi yang cukup riskan karena, dampak yang dimunculkan tidak lain penindasan terhadap rakyat kecil. Di samping itu, kapitalisme bakal merusak ideologi untuk bangsa terutama Indonesia seperti Nasionalisme dan Islamisme.

Karl max pernah merumuskan bahwa kapitalisme akan bisa dimusnahkan dengan adanya revolusioner, tetapi pada nyatanya tidak terjadi maka rumusan Karl Max terbantahkan. Karena itu dengan adanya ideologi sosialisme marxismenya Soekarno, Soekarno tidak ragu mengklaim bahwa kapitalisme sejatinya adalah bentuk dari kejahatan yang terselubung penindasan berkedok kesejahteraan dan keadilan.

Padahal pada ajaran Islam (Islamisme) itu sendiri mengajarkan pentingnya kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama umat islam tanpa membeda-bedakan, Islam pun mengancam perbuatan individualistik karena cenderung menafikan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat mendasar pada diri manusia secarah lahiriah. Karena itu lah, bagi Soekarno, spirit sosialisme adalah spirit Islamisme yang meyuarakan pentingnya keadilan social (social justice). Selain itu, dalam ayat Al Qur’an sangat sudah jelas betapa Allah SWT menganjurkan agar setiap manusia mau berbagi, tidak rakus, apalagi mengklaim sebagai pemilik mutlak atas setiap harta yang dimiliki sehingga tak ada upaya untuk menafkahkannya kepada orang yang lebih membutuhkan.

nasionalisme islamisme marxisme


Dalam konteks ini saja Islam melarang, apalagi terjadi eksploitasi yang kerap dilakukan oleh kaum-kaum pemodal dan penindas terhadap rakyat miskin yang secara tidak langsung membuat ketidakadilan di dalam bermasyarakat dengan sistem bertahap, Alhamdulillah, kapitalisme terus berjalan sampai sekarang dan masyarakat Indonesia masih bisa bertahan hidup itu menjadi kebersyukuran kita, tetapi hal ini tidak boleh kita anggap remeh, harus kita awasi dan dikontrol supaya  tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan secara drastis, bisa bisa saja hal ini menjadi musuh dalam selimut. Namun, menyikapi kapitalisme bukan hanya dalam konteks negatifnya saja tetapi dalam konteks positif, karena kapitalisme juga dibagi menjadi dua kategori kapitalisme baik dan kapitalisme buruk (Good Capilatism and Bad Capitslism) dalam kapitalisme baiknya itu berkaitan dengan bisnis-bisnis yang ada di Indonesia sekarang ini karena bisnislah yang mengangkat sistem pertubuhan perekonomian di Indonesia dan dalam konteks kapitalisme buruk itu seperti seseorang menjadi induvidualistik dan konsumtif.

Begitu pun memahami marxisme, dalam hal ini marxisme atau sosialisme adalah salah satu paham yang berdasarkan pada pandangan Karl Marx yang menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem politik. Marxisme ini suatu bentuk protes terhadap paham kapitalisme karena, kaum kapital megumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar yang sangat merugikan sebelah pihak. Kendati demikian, sangat tidak memberikan sifat kemanusiaan terhadap kaum proletar (kaum miskin) dengan memanfaatkan kaum proletar untuk mencapai kekayaan untuk kaum bourjuis (kaum kaya), maka dari itu Soekarno mencetuskan paham marhaenisme yang paham ini menentang adanya penindasan terhadap umat. 

Persatuan ideologi

Paham nasionalisme yang hanya mencakup sebuah bangsa seolah tidak dapat bersatu jika melihat bahwa paham Islamisme tidak hanya mencakup sebuah bangsa kecil saja, melainkan persaudaraan umat seluruh dunia. Atas permasalahan ini Sukarno mengemukakan nasionalisme yang dianut Gandhi, “Cintaku pada tanah air menjadi bagian dari cintaku terhadap semua umat manusia”. Dengan gambaran nasionalisme yang demikian, sangat jauh dengan paham nasionalisme yang mengarah pada chauvinisme yang sempit. Nasionalisme seperti ini adalah nasionalisme yang cintanya mencakup semua golongan, ras, agama, tidak terkecuali orang-orang barat. Sukarno mengemukakan bahwa nasionalisme dan pergerakan Islam mempunyai suatu musuh yang sama-sama ingin diperangi, yaitu kapitalisme dan Imperialisme Barat.

Mengenai bersatunya golongan nasionalis dan marxis Sukarno juga memberikan satu alasan yang dapat menjadikan kedua golongan itu bersatu. Sukarno menyebut bahwa seorang nasionalis yang memusuhi kaum marxis hanyalah menambah musuh saja, jelas hal itu hanya akan membuat musuh semakin kuat. Sukarno memberikan contoh-contoh yang terjadi di sesama bangsa Asia lainnya. Dr. Sun Yat Sen yang disebut oleh Sukarno merupakan panglima nasionalis yang besar, dengan segala kesenangan hati mau untuk bekerja sama dengan golongan Marxis walau paham Marxis menurut Dr. Sun Yat Sen sangat tidak cocok untuk diterapkan di negeri Tiongkok. Sukarno juga mengingatkan bahwa kaum Marxis harus juga sadar bahwa musuh mereka pun sama dengan kaum Nasionalis, yaitu kapitalisme dan Imperialisme Barat.

Tidak cukup sampai di situ saja, Sukarno juga mengemukakan keharusan bahwa kaum Islam dan Marxis juga harus bersatu. Sepintas dua paham ini sangatlah tidak mungkin untuk dicari kesamaannya, terlebih untuk dicari landasan bersatunya. Kendati demikian, Sukarno benar-benar menunjukkan kapasitasnya sebagai pemikir yang besar. Obsesinya terhadap persatuan seolah tidak dapat dibendung. Sukarno dengan tegas memberikan peringatan kepada kaum Islam bahwa Historis-Materialisme yang dianut kaum Marxis bisa dijadikan sebagai penjelasan terhadap riwayat atau kejadian-kejadian yang telah terjadi di muka bumi dan bisa dijadikan pisau analisis terhadap kejadian yang akan terjadi di masa mendatang. Hal itu tentu sangat berguna sekali bukan hanya terhadap kaum Marxis sebagai penganut, bahkan juga kepada kaum Islam jika mau untuk terbuka menerima sesuatu yang sangat bermanfaat itu. Lebih lanjut Sukarno mengemukakan persamaan dalam memandang laba atau keuntungan. Kapitalisme pada hakikatnya adalah sama-sama musuh dari kaum Marxis ataupun Islam. Dalam paham Marxisme, Meerwaarde diperangi habis-habisan. Artinya memakan hasil pekerjaan orang yang seharusnya menjadi keuntungan kaum yang bekerja malah diambil sendiri oleh si kapitalis. 

Paham Meerwaarde ini disebut oleh Sukarno sama saja dengan Riba dan memungut bunga yang juga sangat diperangi oleh kaum Islam. Dalam paham Marxisme juga dilarang menumpuk harta kekayaan sebagaimana yang dilakukan oleh kaum kapitalis. Sukarno lagi-lagi menemukan kesamaan antara keduanya. Sukarno mengutip sepenggal ayat suci Al-Qur’an yang berisi pelarangan menumpuk-numpuk kekayaan untuk kepentingan sendiri : “Tetapi kepada barang siapa menumpuk-numpuk emas dan perak dan membelanjakan dia tidak menurut jalannya Allah, kabarkanlah akan mendapat satu hukuman yang celaka.

Anjuran untuk bersatu kepada tiga golongan tersebut sebenarnya bukanlah pemaksaan dari satu golongan ke golongan lain untuk menjadi penganutnya. Hanya saja Sukarno ingin golongan-golongan itu berdiri di garis yang sama untuk berjuang bersama-sama melawan musuh yang pada hakikatnya juga sama-sama musuh golongan itu. Baik golongan Nasionalis, Islam dan Marxis mempunyai musuh yang sama, yaitu Belanda.

“… Bukannja kita mengharap jang Nasionalis itu supaja berobah faham mendjadi Islamis atau Marxis, bukannja maksud kita menjuruh Marxis dan Islamis itu berbalik mendjadi Nasionalis, akan tetapi impian kita jalah kerukunan, persatuan antara golongan itu. Bahwa sesungguhnya, asal mau sahadja, tak kuranglah djalan ke arah persatuan” .

Dari tulisan Sukarno tersebut jelas sekali bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika mau untuk bersatu. Tidak ada peraturan golongan satu atau yang lain harus membuang pahamnya sehingga langkah ke arah persatuan seharusnya bisa direalisasikan. Upaya Sukarno ini sangat berbeda dengan tokoh-tokoh pergerakan yang lain pada masa itu. Kebanyakan tokoh-tokoh lain lebih suka menggagas persatuan dalam arti sempit. Persatuan-persatuan atas nama daerah, suku atau agama lebih ditekankan. Baru Sukarno sendiri yang berani untuk mengimbau para tokoh-tokoh pergerakan yang lain untuk bersatu secara nasional.

Ada hal yang menarik dari gagasan persatuan yang diupayakan Sukarno ini. Semua orang sudah pasti mengetahui bahwa Marxisme mempunya suatu paham yang tidak mungkin untuk dipersatukan atau didamaikan dengan golongan Islam. Tentu saja ialah dalil tersohor dalam Manifesto Komunis yang berbunyi : “Agama merupakan candu masyarakat”. Sukarno sadar akan hal itu dan sama sekali tidak menghindarinya. Sukarno menyebut bahwa Marx dan Engel bukanlah nabi-nabi yang teorinya bisa dipakai untuk segala zaman. Seiring perubahan zaman, maka pandangan Marx tentang agama pun juga sangat dimungkinkan untuk berubah. Lagipula menurut Sukarno, orang harus mengerti dulu asal usul mengapa Marx kemudian memberikan justifikasi bahwa agama itu adalah candu masyarakat.

Di Eropa pada zaman Marx masih hidup, kaum Gereja dalam hal ini adalah kaum agama, merupakan sekutu dari kaum kapitalis. Kaum Marxis dicecar habis-habisan oleh kaum Gereja bahwa kaum Marxis adalah penyembah benda-benda, suatu golongan yang menuhankan benda atau materi. Agama dipakai sebagai kendaraan mencapai kepentingan pribadi dan atasan-atasan mereka. Agama digunakan untuk keperluan politik yang sangat reaksioner. Kaum Marxis yang tidak buta dan mau untuk berpikir kala itu jelas menentang sikap-sikap yang tidak terpuji semacam itu. Tapi masyarakat yang sudah buta pemikirannya mau saja dan menerima mereka diperlakukan tidak adil atas nama agama. Itulah asal-muasal dari perkataan Marx yang mengatakan bahwa agama adalah candu bagi masyarakat.

Namun kata Sukarno, di Indonesia sangatlah berbeda kondisinya dengan keadaan di Eropa seperti yang dilihat Marx. Di Indonesia, agama Islam adalah agama kaum yang tertindas, agama dari kaum yang tidak senang terhadap nasibnya. Sudah seharusnya bahwa kaum Marxis,nasionalis dan kaum islamis merasa satu nasib dan berjuang bersama-sama melawan musuh yang telah menindas dan menyengsarakan kehidupan rakyat, yaitu kapitalisme, kolonialisme dan imperialisme.


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Ir Soekarno,Nasionalisme Islamisme dan Marxisme"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

==[ Klik disini 2X ] [ Close ]==