Inspirasi,Putra Wakil Walikota Jadi Kuli - dibuka.site

Sponsored

Inspirasi,Putra Wakil Walikota Jadi Kuli

Hallo sahabat Dibuka Site Berita Online Anak Milenial dimanapun anda berada,Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul " Inspirasi,Putra Wakil Walikota Jadi Kuli ",telah kami persiapkan dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya.mudah-mudahan apa yang kami tulis ini dapat anda pahami.selamat membaca.


anak wakil walikota jadi kuli

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya. Demikian ungkapan yang menggambarkan beda lingkungan menciptakan makhluk yang berada di atasnya mempunyai perbedaan karakter, karena lingkungan tersebut merupakan ajang bagi mereka menempa diri, sehingga mampu menyesuaikan dengan segala tantangan serta kendala yang dihadapinya.

Barangkali tidak jauh berbeda dengan perumpamaan di atas, yang diperkenalkan seorang politisi PDIP di Maluku Utara, Muhammad Sinen terhadap anak laki-lakinya. Sebagai orang yang berada di luar pagar, barangkali masyarakat dan bahkan semua pegawai Pemda kota Tidore, tempat di mana sang pejabat membaktikan dirinya sebagai Wakil Walikota, tak akan habis pikir.

Namun demikianlah keluarga sang politisi menempa mental dan jasmani buah hatinya. Jangankan masyarakat, istri yang notabene ialah ibu dari sang anak, Rafdi Marajabessy, sempat protes atas teknik suaminya memberi izin Rafdi berprofesi sebagai kuli bangunan.
Namun Sinen memiliki keyakinan serta kepercayaan yang kuat, bahwa tempaan seperti yang dipilih Rafdi tidak ada salahnya. Meskipun mungkin cara tersebut terbilang di luar kelaziman, sepanjang pribadi si anak tidak merasa terganggu, tetap saja orang lain hanya bisa menyimak dari luar pagar.

Menarik untuk kita resapi, saat Rafdi menjawab tawaran sang ayah, ketika diajukan tawaran pekerjaan yang lebih ringan, “Banyak orang yang inginkan honor, tapi nanti ayah akan memprioritaskan saya, apa kata orang nanti...”. Membaca komentar ini, niscaya kita akan tergoda untuk memikirkannya lebih jauh.

Kita hanya membayangkan, anak muda seusia dia, mestinya tidak melakukan usaha sekeras itu sekedar untuk mencari nafkah. Dan mungkin sejauh ini, orangtuanya lebih mampu memberinya uang saku, seandainya dia ingin melakukannya. Namun pikiran kita bakal melebar dalam skala ruang dan waktu yang lebih luas.

Demikianlah kesepakatan yang terbangun antara seorang ayah dan anaknya yang mempunyai suasana hati saling melengkapi. Menyadari dirinya berlatar belakang kehidupan sederhana, bahkan orangtua Sinen hanyalah seorang nelayan. Dia sempat mencicipi kehidupan berat dengan berjualan hingga ke tanah Papua, maka sangat wajar kalau dia pun ingin anaknya mempunyai karakter pejuang seperti dirinya.

Bukan perkara mudah untuk seorang anak muda, yang adalah memiliki orangtua pejabat, untuk melakukan hal-hal yang mengundang sinisme masyarakat. Namun justru dari nuansa itulah mentalnya menjadi tertempa dengan lebih menantang.

Tak berlebihan pula jika kebanggaan ayahnya menyeruak manakala menemukan sikap anaknya yang berjiwa sederhana serta merakyat. Bagaimana pun kepuasan batin bisa ditemukan di setiap lapangan pekerjaan, tidak menjadi ukuran, apakah karir mentereng akan membuat penyandangnya memiliki kepuasan lebih tinggi dibanding pemilik karir biasa-biasa saja.

Status sosial pun seringkali menipu. Sebagaimana pernah dilontarkan oleh pengusaha Bob Sadino, almarhum. Ketika dirinya mengenakan pakaian sederhana, tetap saja orang mengira celana buntung yang dipakainya berharga mahal. Dari pemandangan demikian, kita bisa menyimpulkan, bahwa harga materi itu relatif dan tergantung kepada siapa yang berada di baliknya.

Inspirasi juga datang dari seorang PM Inggris di masa lalu Tony Blair, yang mana anaknya hanya berkarir sebagaimana orang kebanyakan menekuninya. Demikian juga dengan putra-putri Presiden Joko Widodo, mereka dikenal sebagai pebisnis yang merangkak dari bawah, tidak tertarik untuk mengikuti jejak orangtuanya.

Banyak hal yang mendorong kita memetik pengalaman orang lain, terutama yang menggugah inspirasi. Menariknya seorang anak dari Wakil Walikota, adalah sikap sederhana dan tidak menganggap pekerjaannya yang sedang dia tekuni, menjadi halangan untuk membuatnya terus melakukan pekerjaan itu, meskipun dia pun pasti sadar, akan banyak cibiran dan tantangan lainnya.

Ketika kita melihat dari sisi orangtua, patut pula memberi acungan jempol kepada mereka. Lebih-lebih jika dibayangkan, bagaimana sulitnya menyaksikan darah dagingnya sendiri menggeluti pekerjaan yang cukup berat, dan bahkan dengan penghasilan yang diyakini sangat minim.

Namun di sisi lain, yang paling membuat kita angkat topi, kedua belah pihak, baik ayah maupun akan sudah memiliki sikap yang sepadan, yakni sederhana dan merakyat. Berangkat dari pemahaman yang sama itu pula, ayahnya merasa yakin, bahwa anaknya memenuhi kriteria sebagai penerusnya di masa yang akan datang.

Intinya, sebuah profesi bisa saja dijadikan sebagai ajang pembelajaran, karena setiap manusia tidak selalu terpaku kepada satu pekerjaan tertentu, sesuai dengan kapasitas dan perkembangan kemampuannya, dia akan menekuni berbagai pekerjaan. Dan ketika waktu memberinya peluang untuk menekuni profesi lain, proses pembelajaran di masa lalu, akan sangat berharga karena tingkat beban yang pernah dialaminya juga pasti akan mewarnai caranya memilih solusi terhadap berbagai persoalan.

Lebih-lebih jika seseorang itu diproyeksikan sebagai calon pemimpin, niscaya dia akan lebih kaya pengalaman, ketika pernah menekuni sebuah pekerjaan yang banyak digelutii oleh masyarakat yang dipimpinnya kelak.


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Inspirasi,Putra Wakil Walikota Jadi Kuli"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel