Skip to main content

10 November 1958 Pertama Kalinya Ditetapkan Sebagai Hari Pahlawan

Setiap tanggal 10  bulan November Bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Pahlawan. Dari pelajar hingga perkantoran, tanpa terkecuali, mereka memperingatinya dengan beragam cara. 


Ditetapkannya 10 November sebagai hari pahlawan berdasarkan Keputusan Presiden No. 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Keppres tersebut ditandatangani langsung oleh Presiden Soekarno. 

Dalam Keppres itu, ada 6 hari bersejarah yang dijadikan sebagai hari nasional bukan hari libur. 

Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 8 Mei 
Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei 
Hari Angkatan Perang pada tanggal 5 Oktober 
Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 
Hari Pahlawan pada tanggal 10 November 
Hari Ibu pada tanggal 22 Desember 

Meski hari nasional baru ditetapkan pada tahun 1959, tetapi peringatan hari pahlawan sudah ada sebelum ditetapkan. Dalam Majalah ARSIP Edisi 64/Juli-Desember 2014 yang diterbitkan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), tercatat Bung Karno telah menghadiri peringatan Hari Pahlawan di Bali pada tahun 1958, satu tahun sebelum penetapan 10 November sebagai hari pahlawan. 

Pada kesempatan itu, Bung Karno memberi sambutan di hadapan para pemuda dan pelajar yang menghadiri acara tersebut. Dalam arsip itu pula disebutkan juga bahwa setiap tanggal 10 November diadakan perayaan atau pawai melintasi jalan-jalan besar di Surabaya, terutama melalui Hotel Oranje atau Hotel Yamato. Sebab, disitulah bendera Belanda diturunkan oleh para pemuda Surabaya dan menggantinya dengan bendera Merah Putih.

Latar Belakang 

Ditetapkannya 10 November sebagai Hari Pahlawan bukannya ujuk ujuk tanpa alasan. 10 November 1945 merupakan pertempuran antara arek-arek Surabaya dengan tentara Belanda. 

Peristiwa itu bermula dari kedatangan Tentara Sekutu ke Surabaya pada Oktober 1945 yang dipimpin oleh Jenderal Mallaby. Mereka melakukan aksi seremonial dengan berjalan ke berbagai sudut kota untuk melihat situasi. 

Akan tetapi, pada 30 Oktober 1945, perwira kerajaan Inggris Jenderal Mallaby tewas akibat mobil yang dikendarainya hangus terbakar. Mengenai penyebab tewasnya Jenderal Mallaby, hingga saat ini masih menjadi perdebatan. Beberapa sumber menyebutkan Mallaby tewas setelah aksi tembak menembak terhadap penduduk Surabaya. 

Sumber lain mengatakan bahwa ia terbunuh akibar granat dari anak buahnya yang berusaha melindungi. Namun, granat itu melesat dan terkena mobil Mallaby, seperti dikutip dari pemberitaan Kompas.com. 

Terbunuhnya Mallaby itu pun memantik kemarahan dari tentara Sekutu. Tepat pada tanggal 9 November 1945, tentara sekutu mengeluarkan ultimatum kepada warga Surabaya melalui selebaran kertas. Ultimatum tersebut berisi tuntutan supaya warga Surabaya menyerah dan menyerahkan semua senjata kepada tentara Sekutu sebelum jam 06.00 pagi hari berikutnya yaitu tanggal 10 November 1945. 

Namun, warga Surabaya menolak tuntutan itu. Pertempuran antara kedua pihak pun tak terelakkan. Pertempuran yang dimotori bukan saja oleh kalangan militer, tapi juga masyarakat, santri dan tentu saja Arek-arek Suroboyo kala itu dan berlangsung lebih dari tiga minggu itu memakan ribuan korban jiwa di pihak Indonesia.

Meskipun kalah dan kehilangan anggota dan persenjataan, pertempuran yang dilancarkan pasukan Republik membangkitkan semangat bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaannya dan menarik perhatian internasional. Belanda tidak lagi memandang Republik sebagai kumpulan pengacau tanpa dukungan rakyat. Pertempuran ini juga meyakinkan Britania untuk mengambil sikap netral dalam revolusi nasional Indonesia,beberapa tahun kemudian, Britania mendukung perjuangan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar
==[ Klik disini 2X ] [ Close ]==