Kisah Pria Muslim Jadi Sopir Gereja Selama 32 Tahun - Dibuka.Site Portal Berita Online Anak Milenial
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Pria Muslim Jadi Sopir Gereja Selama 32 Tahun

Banyak hal menarik yang bisa dikulik dari peringatan Natal, salah satunya terkait toleransi yang ada di Tanah Air. Seperti diketahui, Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak paham keyakinan.

Perbedaan keyakinan tidak membuat masyarakat Indonesia saling berjauhan. Hal tersebut terjadi pada seorang pria bernama Sapari yang menjunjung tinggi toleransi terhadap beda keyakinan. Sapari yang beragama islam merupakan sopir gereja dan pelayan pendeta.

Tak main-main, pria yang akrab disapa Pakde tersebut sudah bekerja sebagai sopir gereja dan pelayan pendeta selama 32 tahun. Ia bekerja di GPIB Immanuel Palembang. Meski ia seorang muslim, ia tidak pernah mempermasalahkan pekerjaannya yang berhubungan dengan agama lain. Bahkan Pakde menyebut bahwa pendeta dan ia sudah saling memahami dan menghormati.

Sebagai seorang sopir gereja dan pelayan pendeta selama 32 tahun, ia tetap memegang teguh ajaran Islam. Berikut rangkuman fakta-fakta tentang Sapari,seorang pria muslim yang jadi sopir gereja dan pelayan pendeta

1. Pekerjaan sebelum menjadi sopir gereja dan pelayan pendeta

Sapari atau yang akrab disapa Pakde dulunya berasal berasal dari Bantul, DI Yogyakarta dan merantau ke Palembang sejak 1983. Sementara itu Pakde menafkahi dirinya sebagai buruh bangunan. Setelah 4 th. menjadi buruh, Pakde berubah menjadi sopir di gereja GPIB Immanuel Palembang. Pakde diterima sebagai sopir sehabis beroleh info berasal dari tempat tinggal jemaat gereja yang ia rekontruksi.

"Saya menjadi sopir pertama di gereja itu. Gaji sementara itu serupa bersama dengan menjadi buruh, sekitar Rp 60 ribu sebulan, tetapi menjadi sopir lebih santai, pakaian rapi, gunakan sepatu, beda ketika menjadi tukang bangunan," kata Pakde.

2. Tugas utama di gereja

Bagi para jemaat GPIB Immanuel kemungkinan tidak asing dengan wajah Sapari atau Pakde. Pakde dikenal akrab oleh para jemaat sebab sudah bekerja sepanjang 32 tahun. Tugas utama Pakde ialah mengantar jemput pendeta dari kediamannya ke gereja, atau ke tempat lainnya mengenai keperluan pendeta di luar kota.

"Ya, tugas saya hanya melayani pendeta, ke mana pun dia pergi maka sayalah yang mengantar. Sesekali juga melayani pengurus gereja kalo ada urusan serta keperluan," ujarnya.

3. Pakde dan Pendeta saling menghormati

Pria berusia 58 th. ini sama sekali tidak terganggu dengan pekerjaannya sebagai sopir gereja. Baginya pekerjaan sopir gereja ini terlampau profesional dan terhitung dihargai oleh para pendetanya. Bahkan pendeta mempersilahkan Pakde salat dahulu jika adzan berkumandang.

"Misal ketika dalam perjalanan dan terdengar azan, aku diminta singgah ke masjid, pendeta bilang salatlah dulu kalo udah masuk waktunya. Ya, aku pikir keimanan pendeta itu udah tinggi, makanya tidak sudi berkata soal keimanan saya, saling menghargai," kata Pakde.

Pakde melayani para pendeta dengan profesional cocok dengan pekerjaannya. Ia dan pendeta pun saling menghormati perbedaan keyakinan satu sama lain. Para pendeta yang jelas Pakde beragama Islam terhitung toleran dan tidak pernah mengajak Pakde masuk gereja.

"Saya tidak pernah meminta dan pendeta juga belumpernah mengajak masuk ke gereja. Saya kerja profesional, cocok tugas aku saja, melayani, itu saja," terangnya.

4. Ada 5 pekerja yang beragama Islam di gereja tersebut

Pakde bukan satu-satunya seorang muslim yang bekerja di GPIB Immanuel Palembang. Masih ada 4 orang lainnya seperti seorang sopir, dua sekuriti dan seorang tukang kebun. Pakde dan keempat saudara muslimnya tetap menjaga kerukunan dengan jemaat gereja. Bagi mereka, yang penting bekerja halal dan tidak merugikan orang di sekitarnya.

"Bagi kami bekerja di mana pun terserah dan sama saja, yang terpenting tidak menipu, tidak mencuri,dan yang penting halal. Kami berlima muslim, dan rukun dengan jemaat-jemaat gereja," kata dia.

5. Berhasil antarkan anaknya menjadi Sarjana

Selama 32 tahun, Pakde bekerja sebagai sopir di GPIB Immanuel Palembang. Kini ia udah beroleh predikat sebagai sopir senior dan driver satu. Ia menjadi sopir andalan para pendeta dikarenakan udah banyak pengalaman melayani pendeta yang bepergian.

"Sudah 32 th. menjadi sopir gereja dan melayani pendeta, hingga saat ini tetap aktif. Total udah ada 8 pendeta yang sudah saya layani, kebanyakan berasal berasal dari Indonesia bagian timur," ujar Pakde.

Pakde sudah menikah dengan perempuan bernama Cholilah (43). Dari pernikahan tersebut, Pakde dan Cholilah memiliki tiga orang anak. Bahkan anak sulung keduanya berhasil meraih gelar sarjana pada 28 Desember 2019 nanti.

"Alhamdulillah, keluarga saya harmonis saja, tidak ada cemoohan tetangga walaupun kerja di gereja, ketiga anak saya sekolah semua, ada masih SMP, SMA, dan satu lagi akan diwisuda," pungkas Pakde.

Sumber

==[ Klik disini 2X ] [ Close ]==